Posted by: fitracahyo | December 26, 2009

350, Angka Paling Penting di Bumi

Ini bukanlah lama bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda, atau bahkan harga rumah tipe 100/140 di Jabodetabek. Bukan juga angka fiksi-ilmiah sejenis 2012 yang lagi populer itu. Angka ini adalah angka ilmiah yang begitu penting karena ia menjadi salah satu tolok ukur bagaimana nasib bumi kita tercinta ini.

Panas, mungkin merupakan salah satu hal yang akhir-akhir ini makin sering kita rasakan di daerah Jabodetabek ini. Bukan hanya di Jabodetabek, hal ini juga dirasakan di berbagai belahan bumi, yang seperti kita ketahui dikenal dengan istilah Global Warming. Berdasarkan pemantauan, telah terjadi kenaikan sekitar 0.74 derajat Celcius pada abad ke-20, dengan trend kenaikan yang semakin tajam pada 3 dekade akhir. Catatan di 2004 bahkan menunjukkan kenaikan sebesar 0.4 derajat Celcius. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan kita semua, karena banyak sekali impact negatif yang langsung kita rasakan dari hal ini.

Hal utama penyebab terjadinya pemanasan global ini adalah terus-menerusnya dilepaskannya berbagai gas rumah kaca ke atmosfer bumi. Salah satu gas rumah kaca yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pemanasan global adalah karbon dioksida (CO2).  Karbon yang pada awalnya tersimpan di dalam lapisan bumi dalam bentuk minyak bumi ataupun batu bara mulai dilepaskan ke atmosfer secara besar-besaran sejak terjadinya revolusi industri. Saat ini, konsentrasi CO2 di atmosfer tercatat telah mencapai 390 ppm (sumber lain mengatakan 387 ppm).

Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa 275 ppm adalah konsentrasi CO2 yang ideal. Pada konsentrasi ini, CO2 yang ada dirasakan cukup untuk menjaga suhu bumi agar dapat ditempati oleh manusia dan makhluk hidup yang lain. Tanpa adanya CO2, bumi akan menjadi sangat dingin karena tidak ada panas yang terperangkap oleh lapisan atmosfer. Konsentrasi 275 ppm ini terjaga sejak awal sejarah manusia di bumi, hingga kira-kira 200 tahun yang lalu sejak revolusi industri terjadi.

Banyak ilmuwan dan ahli iklim setuju bahwa ada suatu batas atas (upper limit) konsentrasi CO2 di atmosfer yang dianggap masih aman. Batas yang disetujui banyak kalangan saat ini adalah 350 ppm, yang sesuai dengan judul artikel ini merupakan angka terpenting di bumi saat ini. Angka ini muncul dari hasil penelitian tim ilmuwan NASA yang dipimpin oleh Jim Hansen pada Desember 2007. Tentunya hal ini sangat mengejutkan bagi kita karena saat ini konsentrasi CO2 telah mencapai angka 390 ppm (atau 387 ppm, menurut sumber lain), yang merupakan angka tertinggi dalam catatan sejarah bumi. Belum lagi dengan kenaikannya yang sekitar 2 ppm tiap tahun.

Konsenstrasi CO2 yang jauh di atas batas aman ini telah mengakibatkan berbagai impact negatif yang kita rasakan saat ini, seperti naiknya suhu di permukaan bumi, mencairnya es di mana-mana, naiknya tinggi permukaan air laut, menjamurnya berbagai penyakit daerah panas seperti malaria dan demam berdarah, berkurangnya kandungan air tanah secara tajam di berbagai daerah sehingga mempengaruhi produksi pangan dan kehidupan manusia, dan masih banyak lagi yang lain. Jika dibiarkan terlalu lama, maka akan berdampak pada perubahan global yang tak terkendali. Akibat terparahnya adalah bumi menjadi sebuah planet yang tidak layak huni bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Tentunya kita tidak menginginkan hal seperti ini terjadi.

Ilustrasi di bawah ini mungkin akan memberikan gambaran yang lebih jelas kepada kita tentang efek pemanasan global terhadap lapisan es di Antartika.

Dalam sejarah bumi, belum ada satu pun makhluk hidup yang mempu memberikan dampak sedemikian hebat selain manusia. Dengan akalnya, manusia telah mampu menciptakan peradaban yang luar biasa di muka bumi ini. Namun sayangnya, dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan usia bumi yang sudah mencapai 4 juta tahun, manusia juga telah menciptakan berbagai kerusakan di muka bumi.

Kini saatnya kita merenungkan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan ini. Tidak perlu muluk-muluk, kita mulai dari hal-hal sederhana yang bisa kita kerjakan sendiri seperti menanam pohon, menghemat pemakaian bensin dan listrik, atau membuat sumur-sumur resapan. Sekecil apapun hal yang kita kerjakan akan memberikan manfaat tersendiri setidaknya bagi lingkungan kecil di sekitar kita.

Sumber:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: